1Leena menatap Lynx dengan enggan, tetapi tatapan serius Lynx membuatnya menyerah. “Baiklah. Tapi jangan lama-lama,” katanya ketus.

Lynx tersenyum kecil. "Ayo, aku sudah menyiapkan tempat."

Lynx menarik lembut tangan Leena setelah memberi tanda ok secara diam-diam kepada Lala yang sudah membantunya. Dengan perlahan, ia membawa Leena menjauh dari kerumunan, menciptakan ruang yang lebih tenang untuk berbicara.

Mereka berjalan beriringan, dan Lynx merasakan ketegangan di antara mereka. Dia berusaha mencairkan suasana dengan senyuman, tetapi Leena tampak masih ragu.

"Leena, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Kenapa sikapmu berubah?" tanya Lynx dengan suara lembut, berharap bisa mengungkap perasaan yang terpendam di antara mereka.

Keduanya berjalan menuju sebuah area dekat gua yang sepi. Lynx menyalakan api unggun kecil, cahayanya memantul di wajah mereka. Leena duduk di seberang Lynx, melipat tangan di dadanya.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya sambil menatap Lynx dengan ekspresi datar.

Lynx menggaruk kepalanya, merasa sedikit canggung. "Aku ingin tahu… apa kabar denganmu? Dan… tentang Sherly. Kenapa dia tidak ada di sini?"

Leena langsung memutar mata, wajahnya berubah kesal. "Sherly? Kau kangen dia, ya?" tanyanya dengan nada sindiran.

Lynx tergagap. "Tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya, itu saja!"

Leena mendengus, berdiri dan bersandar pada pohon dengan frustasi. "Sherly itu benar-benar mimpi buruk. Dia suka memerintah dan selalu menganggap dirinya orang yang sangat penting. Semua orang harus menghormatinya. Dia sering menyebabkan ketidaknyamanan dan membuat banyak orang marah dengan sikap sok tahunya. Belum cukup? Dia bahkan membius dan menculikku untuk dijadikan umpan bagi makhluk mutasi. Jika bukan karena Karim, aku mungkin sudah mati. Dan yang lebih parah, berkat dia, para pendatang dari dimensi lain dapat menemukan dan memasuki perkampungan kita dengan mudah, tanpa terjebak. Kini, dia menghilang begitu saja."

Lynx tertegun mendengar penjelasan Leena. Rasa cemas dan marah bercampur dalam dirinya. "Aku tidak tahu tentang semua ini, Leena. Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal? Seharusnya aku tidak membiarkanmu bersama dengannya," katanya sambil mengepalkan kedua tangannya menahan marah. "Jadi, kemana dia menghilang?"

Leena menatap Lynx dengan tajam. “Kenapa kau terus bertanya tentang Sherly? Apa kau benar-benar peduli padanya?”

Lynx merasa salah tingkah. “Aku hanya penasaran dan ingin tahu saja. Aku tidak ingin dia membuat masalah lagi.”

Leena menghela napas, berusaha menenangkan emosinya. Entah mengapa, sejak bertemu Lynx sore tadi, dia merasa sangat marah padanya. Padahal selama ini, dia selalu merindukannya.

Setelah beberapa saat hening, Lynx memecah keheningan. “Kalau begitu… bagaimana kalau kita berlatih sedikit? Aku ingin tahu seberapa baik kemampuanmu sekarang.”

“Berlatih?” Leena menatap Lynx dengan alis terangkat. “Apa ini lelucon?”

Setelah beberapa saat hening, Lynx memecah keheningan. “Aku melihat saat melawan monster laba-laba tadi, gerakanmu lebih kuat. Sepertinya kamu sangat giat berlatih selama aku pergi. Bagaimana kalau kita berlatih sedikit? Aku ingin tahu seberapa baik kemampuanmu sekarang.”

“Berlatih?” Leena menatap Lynx dengan alis terangkat. “Apa ini lelucon?” tanyanya, berusaha menyembunyikan rasa bahagianya mendengar pujian Lynx.

“Tidak, sungguh,” jawab Lynx dengan senyum kecil. “Aku hanya ingin memastikan kamu menjadi lebih kuat sekarang.”

Leena akhirnya mengalah. Mereka mulai bertanding ringan, saling menguji kemampuan satu sama lain. Leena mengambil ranting kayu di sekitarnya dan menunjukkan kelincahan serta kekuatannya, sementara Lynx sesekali memuji peningkatan tekniknya. Setelah cukup lama bertarung, keduanya duduk kembali di tepi api unggun, terengah-engah tetapi dengan senyum di wajah mereka.

"Jadi," kata Lynx, mencoba membuka pembicaraan lagi. "Aku bertemu banyak orang dalam perjalanan ini. Ada seorang anak bernama Kanha, bocah usia sekitar tujuh tahun yang sangat lucu tapi juga sangat kuat. Lalu ada kakaknya, Narendra, yang menjadi pelindungnya."

Leena mengangguk, mendengarkan, tetapi sorot matanya mulai menunjukkan sesuatu yang lain. Lynx terus bercerita tentang pertemuannya dengan Rara dan Jelita, dua wanita yang juga memiliki kemampuan luar biasa.

Wajah Leena berubah, tetapi dia menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Kau kenapa?” tanya Lynx, menyadari perubahan di wajah Leena.

“Tidak apa-apa, lanjutkan saja ceritanya!” jawab Leena singkat. Tapi dalam hatinya, dia merasa sedikit cemburu.

Lynx melanjutkan ceritanya tanpa menyadari perubahan suasana hati Leena. Setelah beberapa saat, ia kembali berkata. "Aku tidak menduga Sherly bisa sejahat itu dalam sikapnya kepadamu. Ngomong-ngomong, menurutmu, ke mana Sherly pergi?"

Leena akhirnya tidak bisa menahan amarahnya lagi. “Sherly lagi, Sherly lagi. Apa dia begitu penting bagimu?”

Lynx tampak bingung. “Aku… aku hanya sekedar bertanya untuk memastikan apa maunya dia menyakitimu.”

“Dan bagaimana dengan semua wanita cantik yang kau sebutkan tadi? Lala, Rara, Jelita? Apa kau senang dikelilingi mereka?” Leena menatap Lynx dengan sorot mata tajam.

Lynx terkejut, lalu berkata dengan tenang. "Aku hanya peduli pada satu orang."

Leena mendekat, menatap Lynx dengan serius. "Siapa orang itu?"

Lynx tersenyum kecil. "Orang itu ada disampingku sekarang."

Wajah Leena memerah, tetapi dia tidak bisa menahan senyumnya. Namun, dia mengingat sesuatu. "Kalau begitu, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Lala tentang hubungan kita? Kamu malah mengalihkan pembicaraan."

Lynx terlihat gugup. "Karena… aku tidak tahu apakah kau akan setuju dengan apa yang aku katakan. Kita tidak pernah mendiskusikan ini sebelumnya. Aku takut membuatmu marah."

Leena menunduk sejenak, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. Setelah beberapa detik, ia mengangkat wajahnya kembali. "Apa kamu bodoh atau hanya pura-pura tidak mengerti?"

“Apa maksudmu?” tanya Lynx, bingung.

Leena menatap Lynx dengan penuh emosi, lalu berkata pelan, “Ini jawabanku.” Sebelum Lynx sempat bereaksi, Leena mendekat dan mencium Lynx dengan lembut.

Lynx membeku sejenak, tetapi segera tersenyum bahagia. Mereka saling berciuman dengan mesra, melepaskan kerinduan yang terpendam.

"Bagaimana, apa kamu sudah memahaminya?" tanya Leena, wajahnya semakin memerah.

Lynx menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menjawab pelan, "Aku, aku masih belum paham. Mungkin jika diulangi agar lebih jelas."

"Menyebalkan!" seru Leena dengan cemberut, melintangkan tangannya di depan dada.

Dengan cepat Lynx mendekatinya dan menciumnya lagi. Leena terkejut sejenak, tetapi segera menikmati sensasi yang mengalir di antara mereka.

Lynx merebahkan Leena di atas rerumputan, terus menciumnya tanpa henti.

"Lepaskan! Aku kesulitan napas," kata Leena terengah-engah.

Menyadari kesalahannya, Lynx segera meminta maaf. "Maafkan aku, aku sudah berlebihan..."

Namun, sebelum Lynx selesai berbicara, Leena kembali menciumnya sambil berkata, "Aku hanya butuh menghirup udara sejenak," lalu melanjutkan ciuman mereka dengan penuh semangat.

Tanpa mereka sadari, rasa rindu dan dinginnya udara membuat mereka terjebak dalam sebuah ciuman yang panjang, berputar-putar diatas rumput sambil bergantian posisi mencium dari atas.

Namun, tiba-tiba Lynx merasa terkejut saat merasakan tubuh Leena kaku dan sedingin es. "Leena, apa yang terjadi? Leena?" serunya dengan panik.

Lynx segera duduk di samping Leena, matanya penuh kecemasan. Ia melihat Leena terdiam, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Dengan hati yang berdebar, Lynx mengguncangkan tubuh Leena pelan-pelan dalam keadaan panik.

Tak lama kemudian, Leena berdiri dan, tanpa sepatah kata pun, pergi meninggalkan Lynx dengan tatapan kosong di matanya. Lynx berusaha memanggilnya, tetapi panggilannya tak dihiraukan. Ia mengikuti Leena saat gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Namun, Lynx dapat melihat setitik air mata yang mengalir di ujung matanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sikapnya berubah drastis? Apakah dia marah?" Lynx merasa kebingungan dengan perubahan sikap Leena.

Tidak lama kemudian, ia mendengar suara Leena yang sedang mandi. "Kenapa dia mandi malam-malam begini?" batinnya, penuh rasa heran. Lynx merasa semakin penasaran, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan Leena dan mengapa suasana di antara mereka bisa berubah begitu cepat.

Lynx akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat mereka sebelumnya, duduk di samping api unggun dan merenung, mengingat semua kejadian yang telah terjadi.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada bercak darah di tempat di mana ia dan Leena berciuman. "Darah?" pikirnya, jantungnya berdegup kencang. "Apakah Leena terluka? Apakah ini penyebab perubahan drastis dalam sikapnya?" Lynx merasa cemas, bertanya-tanya tentang apa yang mungkin terjadi dan berusaha menghubungkan titik-titik yang mengarah ke perubahan misterius itu.
